Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts

Wednesday, May 19, 2010

Malam ini Cinta Gratis

Malam ini tuan cinta gratis
Cukup kau kecup bibir nya
Kau peluk dirinya
Orang yang telah kau ikat jiwanya di depan penghulu

Malam ini tuan cinta gratis
Cukup kau tatap dalam-dalam wajah-wajahnya
Sepenuh rasa, sepenuh doa
Jiwa-jiwa yang kau panggil ayah dan bunda

Malam ini tuan cinta gratis
Cukup sujud di atas sajadah
Meminta pada Nya
Benar tuan mintalah pada Nya cinta
Semoga tuan mendapatkannya gratis

Thursday, May 13, 2010

Rindu yang Menggigit (4) - Buku Cinta

Setahun tak terasa telah melaju.
Wanita itu masih teguh memeluk erat rindu hatinya.
Gigitannya tajam dan dalam, baik ditubuhnya, baik dijiwanya.
Godaan-godaan yang merenggangkan telah dihadapinya dengan keyakinan.
Ia menggenggam dengan kuat dan tak mau melepaskan rindu itu.
Meskipun pernah sekali ia tergelincir.
Itupun justru makin memperkuat kerinduan dan keyakinan.
Saat kebangkitannya itulah rindunya tak berteman dengan sangsi.
Saat kebangkitannya itulah rindunya berteman dengan keyakinan.
Keyakinan yang tertempa oleh cobaan.
Keyakinan yang tertempa oleh keadaan.
Keyakinan yang tertempa oleh waktu.
Rindu itu kini sudah matang.
Buah dari perjuangannya melawan waktu.
Buah dari perjuangannya sendiri dalam sepi.
Buah dari perjuangannya mempertahankan cinta yang teruji.

Hari ini genap setahun ia menunggu.
Penantiannya akan segera berakhir.
Malam-malamnya tak lagi sepi.
Karena hari ini kekasihnya, obat rindunya akan datang.
Sejak semalam sebelumnya ia telah berbenah.
Menghaluskan rambut-rambutnya yang pernah ia lupakan.
Melembutkan aroma tubuhnya.
Mempercantik wajahnya dengan apa saja yang ada.
Dan pagi ini ia tersenyum melihat dirinya dicermin.
Ceria menghiasi bibirnya mesti belum bertemu.
Wajahnya berbinar-binar memancarkan semangat.
Berpatut dan terus berpatut, memandang cermin tanpa jemu.
Pagi itu waktu baginya terasa sangat cepat.
Hingga akhirnya ia mendengar ketukan di depan pintu.
Ia pun tersenyum dan bergegas.
Mengintip, kemudian bersyukur.

Saat itu dua jiwa yang terpisahkan jarak bertemu.
Saat itu sepasang jiwa yang terpisahkan jarak merasa lengkap.
Tawa atau tangis tak tahu mana yang dahulu.
Dekap hangat, kecupan mesra meleburkan rindu mereka.
Rupanya ke dua hati itu sama-sama bahagia dapat bertemu.
Rupanya ke dua hati itu sama-sama memendam rindu yang besar.
Mereka berdua pun menikmati waktu yang melaju.

Mereka saling bertukar cerita tanpa henti.
Mereka saling tertawa mengupas kebahagiaannya.
Mereka saling berpelukan menebus perpisahan yang lalu.
Hingga malam memberi bulan dan bintang.
Hingga kedua jiwa itu merasa damai sejenak.

Laki-laki itu bercerita tentang perjuangannya mencari nafkah.
Rintangan demi rintangan yang ia lalui, ia ceritakan dengan penuh semangat.
Meskipun terkadang cerita itu sudah pernah ia sampaikan dalam SMS.
Berulangkali ia menekankan rasa tanggung jawabnya untuk memberikan hidup yang lebih baik.
Berulangkali ia menekankan rasa cintanyalah yang mampu membuatnya bertahan.
Tangannya terkadang meremas kuat-kuat jemari istrinya.
Tatapnya dan ekspresinya memberi keyakinan akan kebenaran mulutnya.
Terkadang ia sengaja memandang lekat-lekat wajah didepannya.
Mencari-cari adakah keraguan atau yang tak dimengerti dari ucapannya.
Dan ia pun rela mengulang cerita yang lalu untuk sekedar menghilangkan ragu istrinya.
Terkadang ia sengaja membiarkan istrinya menyelanya.
Dan menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan.
Ia pun tersenyum-senyum, senang sekali melihat ekspresi tanya itu.
Terkadang ia membiarkan istrinya dalam tanya, dan menjawabnya dalam pelukan.
Kemesraan mengental di saat itu.

Wanita itu membiarkan suaminya bercerita penuh tentang perjuangannya.
Ia sengaja tak berbagi cerita dulu tentang perjuangan melawan rindunya.
Wanita itu sesekali bertanya tentang ucapan-ucapan kekasihnya.
Bukan sekedar basa-basi pembunuh waktu, tetapi rasa perhatian dan keinginan tahunya yang mendalam.
Hingga ia merasa lelaki itu tak ada cerita lagi.
Kini ia pun berganti bercerita tentang hari-hari penantiannya.
Kekasihnya mendengarkannya dengan penuh antusias.
Tatapan mata mereka terkadang saling bertemu.
Tatapan mata mereka terkadang saling berpijar.
Dan mereka membiarkan pijar-pijar itu hidup.

Sejenak kemudian wanita itu memberikan sebuah buku.
Kekasihnya membaca dan membaca, selembar demi selembar.
Saat itu juga dengan penuh seksama.
Terkadang ia tersenyum kecil.
Terkadang ia tertawa.
Terkadang raut mukanya terharu.
Meskipun tidak meneteskan air mata.
Buku itu berisi semua SMS yang pernah mereka saling kirimkan.
Dan dibeberapa tempat diceritakan isi hatinya atas SMS itu.
Isi hatinya yang terkadang kecewa.
Isi hatinya yang terkadang jengkel.
Isi hatinya yang terkadang gembira.
Isi hatinya yang penuh rindu.

Dan malam itu setelah buku itu ditutup.
Lelaki itu menutup malam dengan pelukan.
Lelaki itu menutup malam dengan kecupan.
Dan di saat pagi menjelang.
Mereka sadar, ada yang sangat berharga yang telah mereka dapatkan.
Bahkan melebih materi yang mereka perjuangkan.

Saturday, May 8, 2010

Akar Cinta

Hari ini kuusir sangsi kesudut gelap
Hari ini harapan menghangatkan qalbu
Semangat memang seharusnya kuat menjaga
Semangat memang mampu menerbitkan harap
Dan cinta adalah akar yang hidup dan kokoh menopang
Meskipun itu hanya hari ini

Hari ini cinta telah menghidupkanku
Hari ini kasih memberikan kejutan-kejutan kecil
Memang perjalanan hidup mampu mengkayakan cinta
Dan qalbu memaknai apa yang ada dengan syukur
Sehingga syukur pun menyalakan semangat yang diberi cinta
Meskipun itu hanya hari ini

Akar-akar cinta telah menutrisiku
Klorofil syukur telah meramuku
Aku menjadi pohon menua yang hidup
Berharap memberi buah dari cinta dan syukur
Berharap engkau menikmatinya
Sehingga ceria mu merindangkan hidupku

Friday, May 7, 2010

Akhir Rindu

Ketika burung malam memberi tanda hilangnya mentari, saat katak-katak tepi danau sesekali memberi suara, rasanya hujan mencoba mengulang sejarah.

Sepasang mata sayu menatap luasnya langit malam, mencari rembulan yang disembunyikan awan-awan gelap. Bahkan bintang-bintang pun diselimutinya seolah tak berdaya.

Dia berbisik lembut pada hatinya yang ragu. Dia bertanya pada dirinya yang merindu. 'Datangkah ia malam ini?' Rupanya rindu sudah menjadikannya penanya. Dan ia pun menatap jam di dalam rumahnya. Mengharapkan pemberi jawab mengiyakan harapannya.

Bersuara lembutlah ia pada angin. 'Angin tolong lihatlah dimana ia sekarang... Kabari aku..' Bersuara lembutlah ia pada bintang 'Bintang bersinarlah...Kalahkan awan gelap...Bimbinglah ia kepangkuanku'

Sepasang matanya yang sayu kini menjelajahi halaman rumahnya. Mencoba menembus jalan gelap di depan rumah. Waktu yang berjalan tiba-tiba terasa berhenti, ketika sesosok tubuh pembuat rindunya muncul. Sesosok tubuh yang telah lama menemani hidupnya, dalam gelap maupun terang.

Kini rindunya sudah terpangkas habis. Dalam gelap ia merasa terang. Himpitan itu telah hilang, dan ia pun merasa menang dari peperangan. Malam ini ia tutup dengan senyum yang tak berhenti.

Sunday, May 2, 2010

Buah Cinta

Buah cinta adalah degup-degup saat mata bertemu
Buah cinta adalah binar-binar mata saat namamu dipanggil
Buah cinta adalah lelah yang tak dirasa
Buah cinta adalah pemakluman akan kesalahan

Bila hati terjalin
Bila sakit dipahami
Bila kelemahan pintu untuk menanam
Bila mencerna mendahului menghakimi
Buah cinta telah ada

Buah cinta adalah senyum dalam amarah
Buah cinta adalah senyum dalam lelah
Buah cinta adalah belaian dalam luka
Buah cinta adalah paradoks-paradoks yang ada

Dan berikan yang terbaik
Dan berikan maaf
Dan berikan ketulusan
Dan berikan pemahaman
Buah cinta telah ada

Friday, April 30, 2010

Rindu yang Menggigit (2) - Godaan

Benarkah mencintai haruslah tak punya ragu
Benarkah mencintai haruslah tak punya sangsi
Benarkah mencintai mampu membuat kuat
Dan sangsi yang membakar percaya
Dan ragu yang membenamkan cinta
Dimanakah kekuatan itu berada
Seberapa dalam ia melindungi hati
Seberapa dalam ia melindungi jiwa
Seberapa dalam ia melindungi kesucian
Benarkah wanita itu terlindungi?

Wanita itu nampak melemah
Kenangan akan suaminya perlahan mulai buyar
Di dalam jiwa tempat cintanya telah terisi keraguan
Di dalam jiwa tempat keyakinan telah terisi sangsi
Siang yang lalu merupakan godaan yang terhebat
Godaan bagi seseorang yang sendiri menanti
Godaan bagi seseorang yang lama menanti
Siang yang lalu adalah kekalahannya pertama pada rindu
Sangsinya telah membuka pertahanannya
Dia tersenyum sepenuh hati pada seorang penggoda
Meskipun hanya memberikan senyuman
Tetapi dia sadar itulah kekalahannya
Dan malam ini ia menyesal sejadi-jadinya
Ada sebuah rasa yang mencoba meraja disetianya
Sebuah rasa yang membuat dirinya merasa rendah
Ia menangis
Pikirannya berperang
Tetapi hatinya tak kuasa
Sang penggoda itu telah menempati hatinya
Sang penggoda itu telah menyusup disebuah ruang  tersembunyi
Dan ia bingung menyesal ataukah gembira
Gembira karena hatinya tak kering lagi
Gembira karena ada jiwa yang akan melengkapinya
Gembira karena kesehariannya tak akan kusam
Akan ada warna dalam hidupnya yang monoton
Akan ada binar-binar menyusup dalam setiap pertemuannya
Akan ada binar-binar menyusup setiap sang penggoda memanggil dirinya

Malam itu ia habiskan waktunya untuk bersujud
Rasa yang menyusup itu ingin dibunuhnya
Tetapi ia tak mampu
Dan ia pun memohon pertolongan Sang Penciptanya
Meminta hatinya dibersihkan
Meminta hatinya dibebaskan
Rasa sangsi yang menguat
Rasa cinta yang bersemi dengan sang penggoda
Rasa rindu yang perlahan mati
Rasa setia yang akan terlupakan
Dia takut
Dia bimbang
Dia tahu senyum yang diberikan siang yang lalu adalah puncak gunung es
Senyum hanyalah puncak dari penerimaan dirinya
Dirinya menerima membuka hati untuk sang penggoda
Dirinya yang lain malu menerima kenyataan ini
Dirinya yang lain menyalahkan kelemahannya
Dirinya terbagi-bagi dalam bimbang, sangsi, rindu, setia, kesepian
Berkecamuklah semua
Sepertinya tak ada yang mau mengalah
Meskipun rindu mulai terkikis oleh sangsi
Meskipun setia mulai tak seketat mengikat hatinya
Dan bersujudlah ia kembali
Dan ia pun menutup malam itu dengan doa
'Duhai Sang Penciptaku...matikanlah benih-benih rasa yang menggodaku'

Tertidurlah ia meringkuk di atas sajadah
Biarlah tidurnya menawarkan kelelahannya
Biarlah tidurnya memberi sekedar ruang kosong buat hatinya
Setidaknya hingga pagi datang

Monday, April 26, 2010

Rindu yang Menggigit (1) - Dua Bulan Purnama Menanti

Ketika matahari mulai lelah dihari itu
Dan tenggelam secara perlahan memberi gelap
Bulan dan bintang pun menghiasi malam
Sesosok tubuh wanita yang terbalut dengan kain
Menutup setiap jengkal auratnya dengan rapi
Memanjatkan doa kerinduan pada penciptanya
Dengan lembut dan sepenuh hati ia berucap:
'Duhai penciptaku tak tertahankan rindu ini di hati'
'Rindu ini menggigiti semua jengkal jiwaku'
'Tak menyisakan ketegaran untuk melangkah'
'Hanya ingatan diriku pada Mu yang membuat ku bertahan'
'Hanya ingatan diriku pada Mu yang membuat ku tetap berharap'
'Hanya ingatan diriku pada Mu yang mengikatku pada kata setia'
Dan ia pun mengakhiri keluhannya dengan berlinang kerinduan

Tubuhnya telah lama sendiri tak dipagut
Tubuhnya telah lama sendiri berjauhan dari suaminya
Yang pergi mencari kesempatan yang lebih baik bagi mereka
Yang pergi dengan harapan memanen cita-cita
Cita-cita yang diberi nama berkecukupan
Cita-cita yang diberi nama bebas dari hutang
Cita-cita melawan ketidakpastian dalam hidup
Sudah dua bulan lamanya  rindu belum terhapuskan
Bahkan oleh SMS-SMS yang paling mesra yang pernah dibuat
Dirinya sakit
Sakit rindu yang berat
Bahkan bila malam mulai merambat
Tubuhnya menggigil
Tulangnya ngilu
Hatinya gundah gulana
Dan ia pun bertambat pada Penciptanya
Mengharapkan kata-kata setia masih melekat dalam hatinya
Mengharapkan kata-kata setia masih melekat dalam raganya

Malam itu tepat dua bulan purnama ia sendiri
Gundah gulananya menguasai jiwa mengalahkan jernihnya akal
Gundah gulananya menguasai jiwa mengalahkan nurani sucinya
Ia biarkan matanya menelusuri langit-langit
Ia biarkan pikirannya mengumpulkan semua kenangan suaminya
Dan ia pun semakin sakit
Dan ia pun semakin rindu
Dan ia pun memanggil nama suaminya lirih
Dan ia pun memanggil Sang Penciptanya untuk mengeluh
Air mata rindunya menetes
Malam itu bantal basahnya menemaninya hingga subuh
Kelelahan dalam rindu yang membuatnya tidur
Sejenak terlupa sakitnya rindu

Pagi menjelang dan iapun bekerja
Ditempat kerja ia tak pernah bisa berkonsentrasi
Ditempat kerja ia berusaha membenamkan rindunya
Ditempat kerja ia berusaha menjadi sehat
Pekerjaan yang ada dijadikannya obat
Tetapi.....
Detik demi detik
Menit demi menit
Jam demi jam
Dilaluinya dengan kenangan-kenangan yang memenuhi ruang fikirnya
Tak ada tempat baginya untuk lari
Tak ada tempat baginya ruang bebas
Bahkan dengan pekerjaan yang menumpuk
Bahkan dengan pekerjaan yang menyita waktu
Ia dimakan bulat-bulat oleh rindu yang menggigit
Terkadang matanya menatap kosong
Terkadang mulutnya bergumam nama suaminya
Terkadang ia menjatuhkan sesuatu
Ia merasa sendiri
Ia merasa sepi
Meski tak sendiri
Meski tak menyendiri
Dan kini telah dua bulan purnama ia menanti
Ia semakin tak dapat mengendalikan diri
Ia semakin merasa tak menentu
Apakah karena penantian sekian lama
Apakah karena dua bulan purnama?

Saturday, April 24, 2010

Cerita Cinta yang Lara (4) - Terbang-terbanglah Puisiku

Dikenangnya luka hatinya yang dalam
Dihapusnya dengan membaca dan membaca
Puisi-pusinya yang 100 itu
Puisi-puisinya teman-temannya
Dalam mengusir luka yang kadang-kadang tertiup
Dalam mengusir sepi yang kadang-kadang singgah
Dibawanya kemana-kemana 100 puisinya
Mengelilingi lembah edelweis yang indah
Bercampur baur dengan penduduk desa
Bahkan pergi ke kota untuk keperluan sehari-harinya
Tak pernah lepas dari tubuhnya
Tak pernah lepas bergumam mulutnya merapal
Puisi-puisinya teman-temannya

Cintanya yang pedih rupanya perlahan sirna
Semangat hidupnya kembali terpompa
Dan ia berjalan di jalan hidup yang tak sedih lagi
Ia membawa 100 puisi
Ia mempunyai 100 optimisme
Ia mempunyai 100 harapan
Bahkan ia tergerak untuk membagikan puisi-puisinya
Agar dunia tahu apa yang ia rasakan
Agar dunia tahu dirinya sudah bangkit
Dan kini dia termangu di kaki lembah
Memandang sebuah sungai yang mengalir bening
Tak jemu matanya mengikuti aliran air
Datang dan pergi tak berhenti
Serupa cinta, sedih, dan hampa yang kini ia rasa
Tersenyumlah ia sendiri dan bergumam padaku
'Kapankah cintaku datang lagi ?'
'Sanggupkah aku?'
Bergeraklah kakinya ke tepi sungai
Berpijak pada sebuah batu besar, tangannya menyentuh air yang dingin
Dan ia membiarkan khayalannya tak berpijak
Menerawang alam tanpa batas
Hingga tersentak kembali ke bumi

'Aku harus menyebarkan harapku'
'Aku harus mneyebarkan karyaku'
Dia pun berlari kembali ke rumah
Kembali dengan dirinya dan ide-idenya
Dia pergi ke pasar sejenak
Mencari sesuatu yang membebani fikirnya
Mencari sesuatu yang harus ia dapatkan
Dan membiarkan malam mengantarkannya kembali ke rumah
Kembali ke rumah bersama ide-idenya
Kembali ke rumah dengan harapan barunya
Kembali ke rumah dengan cita-cita barunya
Ia pun memasuki rumahnya
Dan pada pintu yang berderit ia berucap:
'Aku harus menyebarkan karyaku'
Obsesi ataukah optimisme yang menjalar
Ataukah keduanya memang sudah saling bergandeng tangan merasukinya
Merasuki alam bawah sadarnya
Merasuki luka-luka yang perlahan sirna

Pagi menjelang Soetrisno tampak segar kembali
Darah optimisme dan obsesi sudah terpompa ke jantung
Semangatnya berkobar memanas nyalang berbinar dimatanya
Dipandangnya 100 balon gas berwarna-warni siap ia terbangkan
Disetiapnya terikat puisi-puisinya
Ah rupanya ia ingin menerbangkannya
Ia ingin menyebarkannya
Ia ingin berteriak lantang dengan tintanya
Ia ingin berteriak lantang bahwa dia tidak dikalahkan oleh cinta
Dan ia pun membawa keluar 100 balon gas itu
Dilepaskannya  ke udara dan berkata:
'Terbang-terbanglah puisiku....'
'Bawalah pergi hatiku yang pedih...'
'Tinggalkan harapan didadaku...'
'Terbang-terbanglah puisiku...'
'Katakan pada dunia Soetrisno menemukan cinta yang lebih baik'

(TAMAT)

Ruang Romantis

Dalam relung hatiku selalu ada ruang romantis
Yang dipenuhi dengan cahaya kemesraan
Disinari dengan pelita yang tak pernah padam
Hangat dan menenangkanmu
Menunjukkan kita sekira gelap menghadang
Menunjukkan kita sekira kata-kata setajam pisau
Dan kita pun berdua merasa makna maaf

Aku akan menjaga pintunya
Aku akan merawat ruangannya
Dan akan kutanam bunga-bunga sayang
Yang wanginya bukan sesaat
Kita pun tak sungkan hadir di sana
Bukan sekedar pengusir penat
Bukan sekedar pertemuan tanpa rasa
Dalam keseharian yang merobotkan kita
Tetapi dua jiwa yang memaknai cinta
Dalam ruangan milik kita
Hanya milik kita
Dalam hatiku, ruang romantis untukmu

Tuesday, April 20, 2010

Bersama Hujan

diiringi tarian air yang menetes di atas tanah
yang menetes di atas batu
yang membasahi daun-daun hijau
yang membasahi ujung rumput yang sempurna
engkau menari dengan anggunnya dengan hujan
membuat yang memandangmu lupa punya jantung
dan membiarkannya bersuara genderang
dan akupun hanya bisa menggigit bibir
untuk menjaganya
dan membiarkan mata ini menikmati setiap gemulai yang ada
entah apa yang membuatnya indah
air hujan tak bertulang
atau gerakmu yang sangat indah
dan akupun hanya bisa meneguk tetes tetes hujan yang hambar
yang berasa debu
untuk memerangi hausnya


mata mungkin lelah
hati mungkin lemah
jiwa mungkin takut
tapi cinta?
dan kubiarkan cinta ini tak lelah
dan kubiarkan cinta ini tak lemah
dan kubiarkan cinta ini berani
meskipun aku hanya memandangmu
meskipun aku hanya menatapmu
meskipun aku terpejam bersamamu
disaat hujan
disaat engkau menari bersama hujan
disaat itu aku cinta

Monday, April 19, 2010

Cinta dalam Kotak Pandora (2)

Berbisik aku pada dada
(dimana adanya)
Dada tak menjawab hanya hening
Aku pun termangu tanpa jawaban
Terdiam mencoba mencari sendiri
Meski tahu tak mungkin kutemui

Berbisik aku pada jantung
(dimana adanya)
Jantung tetap berdegup
Tak memberi jawaban
Aku tak tahu apakah ia diam tak tahu ataukah diam tahu

Berbisik aku pada darah
(dimana adanya)
Darah tetap mengalir
Tak berhenti
Tak memberi jawab
Aku pun ikut mengalir dalam diam
Atau diam dalam waktu yang mengalir
Aku tak tahu

Aku tak tahu yang ada dalam diri
Mesti aku bisa merasa
Mesti aku tahu aku punya
Tapi dimana?

Wednesday, April 14, 2010

Cinta dalam Kotak Pandora

berharap dicinta
mampukah untuk dilupakan
berharap disayang
mampukah menjaga asa yang hilang
bila seperti itu
biarlah kutanam pohon cinta dalam Kotak Pandora
 
tak pernah mampu engkau memahami
karena aku juga begitu
apa yang kau lakukan
apa yang kau harapkan
dari cintaku aku tak mengerti
biarlah aku menyentuh
dengan tatapku
dengan senyumku
dan aku mencoba menyuap rasamu dengan sekantong coklat atau sebuah puisi romantis
meskipun engkau pura-pura tak paham
tetapi engkau kan merasa
cintaku dalam kotak Pandora tak tertahankan
 
biarlah aku mengejarmu
aku menjagamu
jika kau ragu mampukah kau buka Kotak Pandoraku? 

Tuesday, April 13, 2010

Top Up Cintaku

Air yang menetes jadilah saksiku aku perlu top up cinta.
Sajadah tempat ku bersujud jadilah saksiku aku perlu top up cinta.
Bibirku yang berdzikir jadilah saksiku aku perlu top up cinta.

Allah aku perlu cinta Mu.
Saat ini juga.

Sunday, April 11, 2010

Kemana Perginya Cinta

Minyak kata-kata mengenai api emosi
Begitu panas gelora
Amarah sumpah serapah
Kata-kata tak sedap di telinga
Tertuang dan membakar suasana
Dan air pun mendidih matang
Tak mungkin suasana meneguk damai
Saat itu semuanya adalah raja

Ehm ehm...(Suara pak tua memberi spasi mencoba mengambil alih)
Ehm ehm...(Suara pak tua kembali)
Sejenak semua terpaku
Memandangnya dalam tatapan tanya.
Lalu dengan lantangnya ia bersuara
Hai api amarah yang bersemayam dalam kami,
senangkah engkau melihat kami bertikai?
Ia pun menebar pandang dan menatap lekat-lekat setiap bola mata yang ada.
Tangannya menunjuk ke langit
Lalu tangannya menunjuk ke setiap dada yang berdetak
Lalu tangannya menunjuk tanah
Dan ia pun pergi melangkah entah kemana

Satu persatu empunya dada yang berdetak menarik nafas
Saling menatap
Tersungging senyum
Pertikaian tetap pertikaian
Amarah tak perlu diumbar
Mereka pergi melangkahkan kaki
Mungkin suatu saat akan berlanjut
Mungkin suatu saat akan berhenti

Api amarah belum sirna
Api cinta tak pernah ditanya

Saturday, April 10, 2010

Aku Lupa Aku Cinta Kamu

Dalam sendiri bahkan sepi tak menemani
Hanyut dalam pusaran waktu
Tenggelam dalam dilema
Melupakan kata cinta yang diberi

Bisikan malam menutupku
Jalan kenangan kita
Tercecer entah kemana
Mencoba mempertahankannya
Tetapi tak kuasa
Bahkan makin jauh meninggalkan
Dan aku makin sendiri bahkan sepi tak menemani
Kucoba mendua dengan ramainya dunia
Kucoba mendua dengan karya
Kucoba mendua dengan kesibukan
Hanya membuatku sadar aku sendiri
Dan sepi tertawa terbahak-bahak
Dia mempunyai teman

Aku terlalu sendiri
Bahkan rasa cinta aku lupa rasanya
Ia telah lama tak menemaniku
Kini sepi mendekatiku
Biarlah....
Aku lupa aku cinta pada mu

Ini Mengenai Cinta

Sang Pencipta aku ingin bertanya
Kapankah cinta melekat dalam aku
Aku ingin tahu
Benarkah sejak buaian ia ada
Ataukah...(terdiam tanpa tahu apa yang hendak diucap...argh)

Sang Maha Tahu ini mengenai rasa
Rasa yang indah yang membuai
Terbang entah kemana
Tiba-tiba membuat menjadi pemaaf
Tiba-tiba membuat menjadi pemarah
Malu-malu
Cemburu
Gigih membela
Gigih memburu
Bagaimanakah menilainya
Bagaimanakah memulainya ada

Sekiranya Engkau ada selular phone
Aku SMS atau aku telepon sekarang juga
Mohon jawabannya
(dan aku pun bersujud pada Mu, bersyukur atas anugrah yang tak terperi)

Thursday, April 8, 2010

Pelangi Cinta

Debur rasa bergelora
Terik cinta menanamkan awan cemburu
Pelangi sayang terlukis di langit cerita
Amarah terbenam
Bangga melayang
Berdua menjalin rasa
Berdua memadu amarah
Berdua menggapai mimpi
Berdua membisikkan cinta

Mata saling menatap
Bersandarlah dirimu
Degup jantung musik terindah
Dan biarlah kemesraan menyelimuti
Berpendar dalam sesaat
Energi cinta melapisi
Semburat warna warni
Pelangi rasa dalam cinta tak pernah aku tahu warnanya
Mata cintaku tak mampu mencerna
Warnanya terlalu indah
Jiwaku berkecamuk dalam limitnya
Wadah cintaku overflow dalam luapannya
Dan biarlah begitu

I love you
.

Bilakah Cinta Pergi

Saat mentari terbitkah?
Saat menutup matakah?
Saat godaan menguasai?
Saat cobaan tak henti?
Bilakah cinta pergi?

.....dan kukecup dahimu
Mungkin engkau lupa yang terakhir
Mungkin kelak engkau bosan
Mungkin engkau ragu kini juga nanti
Dan biarlah pertanyaan itu selalu mengingatkan kita
Dan biarlah pertanyaan itu merekatkan kita.

Wednesday, April 7, 2010

Kubacakan Puisi di bawah Gerimis

Gerimis yang melenggak-lenggok tertiup angin. Seakan-akan turun tak berjalur. Angin membawanya kesana kemari. Seakan-akan menggambarkan rinduku.

Aku pun menarik nafasku. Mengambil ancang-ancang, memberanikan diri, menenangkan gejolak. Dua tiga kali kulakukan. Kebranian mulai lepas dari sekatnya. Suaraku sudah siap untukmu.

Aku pun membacakan puisi. Dalam gerimis yang dingin. Dalam rindu yang terombang-ambing. Untuk seseorang disana. Yang mungkin melupakan rindu. Yang mungkin tak pernah merasa gamang. Yang mungkin tak pernah merasakan gerimis. Dingin...

Gerimis pun kan berakhir. Tetapi puisiku belum berakhir. Ini bukan mantra memanggil hujan, bukan pula penangkalnya, ianya rasa rindu yang menggigil. Rindu yang sangat dingin membuat sejenak kelu lidahku. Puisiku belum berakhir. Tetapi gerimis tlah usai.

Dingin, dingin, aku tiba-tiba cengeng, menetes rinduku menggantikan gerimis.Aku berhenti, tak sanggup. Saatnya menunggu gerimis lagi. Agar puisiku merdu terdengar, karena rinduku yang dingin terpancing. Jiwaku, alam, puisi, serasa satu dalam rindu yang dingin, dalam gerimis yang dingin, dalam ucapanku yang dingin. Semuanya menyatu, harmonisasi, menggapai merdu.

Jika gerimis tiba ingatlah aku. Ingatlah rinduku. Ingatlah cintaku.

Wednesday, March 31, 2010

Aku yang Mengaku Cinta

Bisik hatiku berucap aku mengaku cinta. Meskipun hati tak berbunga. Getir pahit empedu kukecap dengan sabar. Tetapi lara singgah ketika hasil tak jua nampak. Ah.. Padahal aku mengaku cinta.

Langkah kaki berjalan tak henti, menyusuri detak-detak jantung yang ada kini juga nanti. Meskipun sholat hambar, harus kuarunginya dengan iman. Apakah aku sakit kronis? Pelita tak bersinar, mungkin minyak ibadah tlah menguap lama tanpa disadari. Ah.. Padahal aku mengaku cinta.

Mata ini ingin menatap surga. Tetapi begitu lepas melihat indahnya mahluk Mu. (Kutarik nafasku) kendalinya entah kucari dimana. Bidadari-bidadari surga yang kurindu apakah kelak masih menemaniku. Padahal aku mengaku cinta.

Duhai Yang Maha Mendengar, genggamlah bisikkan hatiku, genggamlah ucapan cintaku. Tubuhku dan jiwaku bersedia pada Mu. Warnailah selalu jangan pudarkan sinarMu.

Bahasa Merdu - Puisi Cinta

Bahasa Merdu - Pidato