Showing posts with label cerita cinta. Show all posts
Showing posts with label cerita cinta. Show all posts

Friday, May 21, 2010

Lelaki dan Bayangan (2)

Pagi yang indah pun datang. Mentari memberinya keceriaan. Sinarnya menyusup dari kaca jendela kamarnya. Bayangan dirinya mulai jelas terlihat. Lelaki itu pun tersenyum padaku. Percakapanku dengannya semalam sudah dilupakannya. Ia kembali asyik menatap bayangannya dan mengajakku berbicara. Ia ceritakan isi hatinya yang menyimpan gundah gulana. Ia ceritakan rasa pesimis yang mengunci masa depannya. Ia tidak menangis, tetapi ia sangat sedih.
Istrinya yang cantik jelita itu mendesah menatap kami. Langkah kakinya menghampiri jendela dan menutup tirai, ia membunuhku. Lelaki itu sedih melihat tak ada bayangannya di kamar. Ia pun memalingkan muka tak mengajak bicara. Istrinya berusaha membuka interaksi. Dicobanya beberapa kata pembuka. Tetapi lelaki itu melukainya dengan diam yang tajam. Dan mengena dengan telak, hingga meneteslah beberapa tetes air mata. Hangat matanya, perih hatinya.
Hingga malam yang bertugas dan siang pun pergi beristirahat. Lelaki itu menatap tembok di atas pembaringannya. Membalas tindakannya pagi tadi dan pagi-pagi sebelumnya, setiap saat kami tertangkap basah. Istrinya hanya menangis, membiarkan air matanya membanjiri bantal. Kesedihan rupanya memenjarakan hidup mereka. Tepatnya sejak dua tahun lalu. Saat itulah ia akrab denganku. Tepat saat sehari setelah bulan madu mereka. Dimana ia harus mengenakan kursi roda, karena kecelakaan yang menimpanya.
Ia tak mau mengakrabi istrinya, istrinya tak mau meninggalkannya. Meskipun ia sangat terluka, oleh sikap-sikap diam yang tajam. Lelaki itu bergumam kepada tembok 'aku hanya memiliki bayangan, tetapi istriku berulangkali membunuhnya'. Istrinya terdiam sejenak, kalimat yang sama yang didengarnya berulangkali. Ia menatap punggung yang membelakanginya. Punggung orang yang ia cintai sepenuhnya. Punggung orang yang tak ingin berbagi duka dengannya. Punggung orang yang ingin mengusir dirinya dari kehidupannya.
Bingung sejenak, ingin ia berkata-kata. Kata-katanya telah dikalahkan oleh bayangan. Hatinya terlalu luka oleh diam-diam yang tajam. Ia ingin mengakhiri semua ini. Ia ingin menghancurkan tembok tak kasat mata diantara mereka. Bagaimana caranya? Malam itu ia berjuang kembali, melawan lukanya. Malam itu tekadnya sudah membaja.
Tiba-tiba istri yang cantik jelita itu berkata nyaring. 'Suamiku aku mencintaimu'. Kenyaringan dengan perih mendalam dengan nada getir. Dipeluknya suaminya secara kasar. Lelaki itu hanya diam. Tidak memberi tanda. Bahkan ketika perih di pundak kanannya terasa. Ada darah yang mengalir. Istrinya menggigit dalam-dalam pundaknya, hingga luka. 'Suamiku jika engkau melihat hatiku, lukanya lebih dalam dari lukamu. Suamiku jika engkau merasa perih, perihnya jiwaku lebih perih dari perihmu. Aku mencintaimu apa adanya'. Dan pelukkan itu mengerat, seperti simpul mati pada badannya. Lelaki itu menangis, tangisan pertama sejak dua tahun lalu.
Hening...sangat hening...sedih pun terpecahkan dengan dua pasang mata yang basah. Detik yang melaju memberi suara dari dinding. Entah berapa ribu ia melaju. Hingga sang lelaki itu membalikkan badannya. Mengucapkan kalimat pertama sejak ia membisu, 'aku hanya memilikimu'.

Lelaki dan Bayangan

Lelaki itu datang padaku. Mengeluhkan hidupnya dengan hartanya. Katanya 'aku tak punya apa-apa, selain bayanganku'. Ia menatapku dengan 1000 makna. Dibiarkannnya diriku mencerna kata-katanya. Tetapi aku hanya memberinya diam tanpa bahasa. Dan aku juga memberikannya telingaku untuk mendengar.

Saat itu malam sedang bertugas. Aku dan dia ditemani beberapa lampu. Dia tertawa dan menunjuk-nunjuk bayangannya.'Lihat-lihatlah itu...itulah hartaku satu-satunya'. Dia kembali menatapku, di berikannya wajah sedih yang teramat sedihnya padaku. Menarik nafaslah ia berulangkali. Berusaha mengusir energi negatif yang menguasainya. Mendesah...mendesah...sedih...sedih. Aku bingung dengan situasi ini. Ingin lari darinya saat itu juga. Dan membiarkannya tertawa sendiri. Tapi ingin itu kubuang segera.

Lelaki didepanku ini kukenal serba kecukupan. Harta bukanlah isu baginya, tetapi ia mengeluhkannya padaku. Ah...aku pun belum menangkap maksudnya.

'Aku hanya punya bayangan, kemana aku pergi aku tak mau gelap merampasnya. Ia hartaku satu-satunya'. Ia menatap lampu yang menemani kami dengan sangat mesra. Sekiranya istrinya melihat ini, ia pasti sudah memutilasi lampu itu. Padahal lampu itu hanya memberinya bayangan, tidak lebih dari itu. Dan ia pun menatap mesra lampu itu. Senangnya muncul dari senyumnya. Ia pun menarik bibirnya dengan sepenuh hati. Seolah-olah sedih sudah pergi.

Aku menatapnya dengan seribu tanya. Gusar dengan tingkah lakunya. Gusar dengan sikapnya. Kuusik dia dengan tanya yang sekedarnya: 'Lalu kalau kau dikubur apa yang kau punya?'. Dia pun berkata 'Ah bahkan bayangan pun aku tak punya'. Ia pun sedih kembali. Menatapku dan menatapku. Dimatikannya lampu itu, dimatikannya aku. Dan ia pun sendiri dalam gelap, tanpa lampu, dan tanpa aku.

Thursday, May 13, 2010

Rindu yang Menggigit (4) - Buku Cinta

Setahun tak terasa telah melaju.
Wanita itu masih teguh memeluk erat rindu hatinya.
Gigitannya tajam dan dalam, baik ditubuhnya, baik dijiwanya.
Godaan-godaan yang merenggangkan telah dihadapinya dengan keyakinan.
Ia menggenggam dengan kuat dan tak mau melepaskan rindu itu.
Meskipun pernah sekali ia tergelincir.
Itupun justru makin memperkuat kerinduan dan keyakinan.
Saat kebangkitannya itulah rindunya tak berteman dengan sangsi.
Saat kebangkitannya itulah rindunya berteman dengan keyakinan.
Keyakinan yang tertempa oleh cobaan.
Keyakinan yang tertempa oleh keadaan.
Keyakinan yang tertempa oleh waktu.
Rindu itu kini sudah matang.
Buah dari perjuangannya melawan waktu.
Buah dari perjuangannya sendiri dalam sepi.
Buah dari perjuangannya mempertahankan cinta yang teruji.

Hari ini genap setahun ia menunggu.
Penantiannya akan segera berakhir.
Malam-malamnya tak lagi sepi.
Karena hari ini kekasihnya, obat rindunya akan datang.
Sejak semalam sebelumnya ia telah berbenah.
Menghaluskan rambut-rambutnya yang pernah ia lupakan.
Melembutkan aroma tubuhnya.
Mempercantik wajahnya dengan apa saja yang ada.
Dan pagi ini ia tersenyum melihat dirinya dicermin.
Ceria menghiasi bibirnya mesti belum bertemu.
Wajahnya berbinar-binar memancarkan semangat.
Berpatut dan terus berpatut, memandang cermin tanpa jemu.
Pagi itu waktu baginya terasa sangat cepat.
Hingga akhirnya ia mendengar ketukan di depan pintu.
Ia pun tersenyum dan bergegas.
Mengintip, kemudian bersyukur.

Saat itu dua jiwa yang terpisahkan jarak bertemu.
Saat itu sepasang jiwa yang terpisahkan jarak merasa lengkap.
Tawa atau tangis tak tahu mana yang dahulu.
Dekap hangat, kecupan mesra meleburkan rindu mereka.
Rupanya ke dua hati itu sama-sama bahagia dapat bertemu.
Rupanya ke dua hati itu sama-sama memendam rindu yang besar.
Mereka berdua pun menikmati waktu yang melaju.

Mereka saling bertukar cerita tanpa henti.
Mereka saling tertawa mengupas kebahagiaannya.
Mereka saling berpelukan menebus perpisahan yang lalu.
Hingga malam memberi bulan dan bintang.
Hingga kedua jiwa itu merasa damai sejenak.

Laki-laki itu bercerita tentang perjuangannya mencari nafkah.
Rintangan demi rintangan yang ia lalui, ia ceritakan dengan penuh semangat.
Meskipun terkadang cerita itu sudah pernah ia sampaikan dalam SMS.
Berulangkali ia menekankan rasa tanggung jawabnya untuk memberikan hidup yang lebih baik.
Berulangkali ia menekankan rasa cintanyalah yang mampu membuatnya bertahan.
Tangannya terkadang meremas kuat-kuat jemari istrinya.
Tatapnya dan ekspresinya memberi keyakinan akan kebenaran mulutnya.
Terkadang ia sengaja memandang lekat-lekat wajah didepannya.
Mencari-cari adakah keraguan atau yang tak dimengerti dari ucapannya.
Dan ia pun rela mengulang cerita yang lalu untuk sekedar menghilangkan ragu istrinya.
Terkadang ia sengaja membiarkan istrinya menyelanya.
Dan menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan.
Ia pun tersenyum-senyum, senang sekali melihat ekspresi tanya itu.
Terkadang ia membiarkan istrinya dalam tanya, dan menjawabnya dalam pelukan.
Kemesraan mengental di saat itu.

Wanita itu membiarkan suaminya bercerita penuh tentang perjuangannya.
Ia sengaja tak berbagi cerita dulu tentang perjuangan melawan rindunya.
Wanita itu sesekali bertanya tentang ucapan-ucapan kekasihnya.
Bukan sekedar basa-basi pembunuh waktu, tetapi rasa perhatian dan keinginan tahunya yang mendalam.
Hingga ia merasa lelaki itu tak ada cerita lagi.
Kini ia pun berganti bercerita tentang hari-hari penantiannya.
Kekasihnya mendengarkannya dengan penuh antusias.
Tatapan mata mereka terkadang saling bertemu.
Tatapan mata mereka terkadang saling berpijar.
Dan mereka membiarkan pijar-pijar itu hidup.

Sejenak kemudian wanita itu memberikan sebuah buku.
Kekasihnya membaca dan membaca, selembar demi selembar.
Saat itu juga dengan penuh seksama.
Terkadang ia tersenyum kecil.
Terkadang ia tertawa.
Terkadang raut mukanya terharu.
Meskipun tidak meneteskan air mata.
Buku itu berisi semua SMS yang pernah mereka saling kirimkan.
Dan dibeberapa tempat diceritakan isi hatinya atas SMS itu.
Isi hatinya yang terkadang kecewa.
Isi hatinya yang terkadang jengkel.
Isi hatinya yang terkadang gembira.
Isi hatinya yang penuh rindu.

Dan malam itu setelah buku itu ditutup.
Lelaki itu menutup malam dengan pelukan.
Lelaki itu menutup malam dengan kecupan.
Dan di saat pagi menjelang.
Mereka sadar, ada yang sangat berharga yang telah mereka dapatkan.
Bahkan melebih materi yang mereka perjuangkan.

Wednesday, May 12, 2010

Rindu yang Menggigit (3) - Perisai itu ada

Perlahan-lahan wanita itu mencoba menyadari hatinya
Tetapi ia tetap tak mampu menghapus bayangan baru yang menyusup
Ia bersemangat di pagi hari
Ia bersemangat melangkahkan kaki ke kerja
Ia menyambut rutinitasnya dengan energi baru
Wajah yang menemani disendirinya
Wajah yang bukan saja bayangan bekas-bekas kenangan
Wajah yang bisa ditatapnya
Sembunyi-sembunyi dengan sudut matanya
Dan memberinya senyum manis di sudut bibirnya ketika tertangkap si empunya wajah
Dan menyusuplah rasa aneh itu ke dalam hatinya

Sang penggoda semakin agresif
Melihat kesempatan yang telah terbuka
Serangan-serangan gerilya dilancarkan
Hingga ia merasa waktunya tiba untuk mengkoyak mangsanya
Dia merasa di atas angin
Tarik ulur...
memberi rasa...
menjual mahal cinta..
memberi simpati...
memberi tanda-tanda..
sinyal-sinyal harapan
Ah...jurus-jurus penggoda yang sangat ampuh
Hati sendiri mana yang tak terpikat

Beberapa malam ini wanita itu sudah tak menangis
Ia sudah melupakan sakitnya sendiri
Ia sudah melupakan jejak-jejak kesetiaan yang digenggamnya kuat-kuat
Ia sudah lelah dengan rasa rindunya
Dan kini ia sudah merasa hidup kembali
Hidupnya bersinar
Langkahnya ringan
Ada energi yang tumbuh dari mana
Membuatnya semangat melalui hari demi hari
Tapi tiba-tiba dirinya terhentak
Tingginya matahari tiba-tiba dirasakannya asal ia terhempas
Sebuah SMS rindu dari suaminya yang tersisihkan beberapa hari dari hatinya
'Rinduku sekiranya raga belum dapat bersua, tahulah bahwa setiaku mengikat seluruh ragaku untukmu'
SMS singkat yang menggetarkan
SMS singkat yang memutarbalikkan dunia hatinya
Fikirannya tiba-tiba hampa sesaat
Jantungnya berdegup hingga terdengar ditelinganya
Serasa dunia bergoyang
Tiba-tiba ia merasa lemas
Bahkan handphone ditangannya terlepas
Istighfar...dia istighfar...
Menetes dan menetes air matanya

Malam ini rindu lamanya tumbuh kembali
Rasa aneh yang manis yang dinamakannya cinta untuk sang penggoda dimuntahkannya
Ia menangis
Tetapi ia jua tersenyum
Malam ini sujud lamanya kembali lagi
Ia kembali menelusuri sudut-sudut sajadahnya dengan tekun
Ia berbisik pada Tuhannya
'Aku mengaku salah....'
Sajadah itu basah
Matanya yang sembab itu sumbernya
Tetapi sebenarnya rindu lamanya itu lah sebabnya


Malam itu adalah titik balik dalam hidupnya
Meskipun tak bertemu, meskipun tak bersua rindu lamanya telah tumbuh kembali
Bahkan kini ia semakin mantap
Kini ia semakin tahu apa arti setia
Kini ia semakin tahu apa artinya mempertahankan cinta
Ia mempunyai perisai
Ia mempunyai keyakinan untuk melindungi rindunya sepenuh hati

Sunday, May 2, 2010

Cinta Hanya untuk Pemberani

Ketika berpaling dariku
Lara yang kau beri
Memberi duka yang menyakit
Aku tak mengerti kenapa terjadi
Bukankah kita sepakat tentang cinta
Tetapi begitulah adanya
Dan akupun lara
Terpukau dalam sedih hingga sadar
Cinta memang hanya untuk pemberani
Mereka yang tak takut untuk jatuh
Meskipun hati telah bersandar
Meskipun jiwa merasa lengkap
Hingga kau memberi aku hadiah
Hingga kau uji hidupku
Engkau pun pergi
Dan aku tak mampu bertanya
Meski tahuku tak menjawab heranku
Meski aku merasa lemah
Lemah itu tumbuh menguat dalam nadiku
Bahkan ia memberi dingin di tulang-tulangku
Aku tak tahu apakah engkau puas melihatnya
Atau sinis menghiasi bibirmu
Tapi kau keliru jika hidupku tak kuteruskan
Kau keliru jika aku merangkak mengais-ngais sedih
Agar hilang ditelan waktu
Tetapi benar aku sejenak terjatuh
Hingga aku sadar
Cinta hanya untuk pemberani

Friday, April 30, 2010

Rindu yang Menggigit (2) - Godaan

Benarkah mencintai haruslah tak punya ragu
Benarkah mencintai haruslah tak punya sangsi
Benarkah mencintai mampu membuat kuat
Dan sangsi yang membakar percaya
Dan ragu yang membenamkan cinta
Dimanakah kekuatan itu berada
Seberapa dalam ia melindungi hati
Seberapa dalam ia melindungi jiwa
Seberapa dalam ia melindungi kesucian
Benarkah wanita itu terlindungi?

Wanita itu nampak melemah
Kenangan akan suaminya perlahan mulai buyar
Di dalam jiwa tempat cintanya telah terisi keraguan
Di dalam jiwa tempat keyakinan telah terisi sangsi
Siang yang lalu merupakan godaan yang terhebat
Godaan bagi seseorang yang sendiri menanti
Godaan bagi seseorang yang lama menanti
Siang yang lalu adalah kekalahannya pertama pada rindu
Sangsinya telah membuka pertahanannya
Dia tersenyum sepenuh hati pada seorang penggoda
Meskipun hanya memberikan senyuman
Tetapi dia sadar itulah kekalahannya
Dan malam ini ia menyesal sejadi-jadinya
Ada sebuah rasa yang mencoba meraja disetianya
Sebuah rasa yang membuat dirinya merasa rendah
Ia menangis
Pikirannya berperang
Tetapi hatinya tak kuasa
Sang penggoda itu telah menempati hatinya
Sang penggoda itu telah menyusup disebuah ruang  tersembunyi
Dan ia bingung menyesal ataukah gembira
Gembira karena hatinya tak kering lagi
Gembira karena ada jiwa yang akan melengkapinya
Gembira karena kesehariannya tak akan kusam
Akan ada warna dalam hidupnya yang monoton
Akan ada binar-binar menyusup dalam setiap pertemuannya
Akan ada binar-binar menyusup setiap sang penggoda memanggil dirinya

Malam itu ia habiskan waktunya untuk bersujud
Rasa yang menyusup itu ingin dibunuhnya
Tetapi ia tak mampu
Dan ia pun memohon pertolongan Sang Penciptanya
Meminta hatinya dibersihkan
Meminta hatinya dibebaskan
Rasa sangsi yang menguat
Rasa cinta yang bersemi dengan sang penggoda
Rasa rindu yang perlahan mati
Rasa setia yang akan terlupakan
Dia takut
Dia bimbang
Dia tahu senyum yang diberikan siang yang lalu adalah puncak gunung es
Senyum hanyalah puncak dari penerimaan dirinya
Dirinya menerima membuka hati untuk sang penggoda
Dirinya yang lain malu menerima kenyataan ini
Dirinya yang lain menyalahkan kelemahannya
Dirinya terbagi-bagi dalam bimbang, sangsi, rindu, setia, kesepian
Berkecamuklah semua
Sepertinya tak ada yang mau mengalah
Meskipun rindu mulai terkikis oleh sangsi
Meskipun setia mulai tak seketat mengikat hatinya
Dan bersujudlah ia kembali
Dan ia pun menutup malam itu dengan doa
'Duhai Sang Penciptaku...matikanlah benih-benih rasa yang menggodaku'

Tertidurlah ia meringkuk di atas sajadah
Biarlah tidurnya menawarkan kelelahannya
Biarlah tidurnya memberi sekedar ruang kosong buat hatinya
Setidaknya hingga pagi datang

Monday, April 26, 2010

Rindu yang Menggigit (1) - Dua Bulan Purnama Menanti

Ketika matahari mulai lelah dihari itu
Dan tenggelam secara perlahan memberi gelap
Bulan dan bintang pun menghiasi malam
Sesosok tubuh wanita yang terbalut dengan kain
Menutup setiap jengkal auratnya dengan rapi
Memanjatkan doa kerinduan pada penciptanya
Dengan lembut dan sepenuh hati ia berucap:
'Duhai penciptaku tak tertahankan rindu ini di hati'
'Rindu ini menggigiti semua jengkal jiwaku'
'Tak menyisakan ketegaran untuk melangkah'
'Hanya ingatan diriku pada Mu yang membuat ku bertahan'
'Hanya ingatan diriku pada Mu yang membuat ku tetap berharap'
'Hanya ingatan diriku pada Mu yang mengikatku pada kata setia'
Dan ia pun mengakhiri keluhannya dengan berlinang kerinduan

Tubuhnya telah lama sendiri tak dipagut
Tubuhnya telah lama sendiri berjauhan dari suaminya
Yang pergi mencari kesempatan yang lebih baik bagi mereka
Yang pergi dengan harapan memanen cita-cita
Cita-cita yang diberi nama berkecukupan
Cita-cita yang diberi nama bebas dari hutang
Cita-cita melawan ketidakpastian dalam hidup
Sudah dua bulan lamanya  rindu belum terhapuskan
Bahkan oleh SMS-SMS yang paling mesra yang pernah dibuat
Dirinya sakit
Sakit rindu yang berat
Bahkan bila malam mulai merambat
Tubuhnya menggigil
Tulangnya ngilu
Hatinya gundah gulana
Dan ia pun bertambat pada Penciptanya
Mengharapkan kata-kata setia masih melekat dalam hatinya
Mengharapkan kata-kata setia masih melekat dalam raganya

Malam itu tepat dua bulan purnama ia sendiri
Gundah gulananya menguasai jiwa mengalahkan jernihnya akal
Gundah gulananya menguasai jiwa mengalahkan nurani sucinya
Ia biarkan matanya menelusuri langit-langit
Ia biarkan pikirannya mengumpulkan semua kenangan suaminya
Dan ia pun semakin sakit
Dan ia pun semakin rindu
Dan ia pun memanggil nama suaminya lirih
Dan ia pun memanggil Sang Penciptanya untuk mengeluh
Air mata rindunya menetes
Malam itu bantal basahnya menemaninya hingga subuh
Kelelahan dalam rindu yang membuatnya tidur
Sejenak terlupa sakitnya rindu

Pagi menjelang dan iapun bekerja
Ditempat kerja ia tak pernah bisa berkonsentrasi
Ditempat kerja ia berusaha membenamkan rindunya
Ditempat kerja ia berusaha menjadi sehat
Pekerjaan yang ada dijadikannya obat
Tetapi.....
Detik demi detik
Menit demi menit
Jam demi jam
Dilaluinya dengan kenangan-kenangan yang memenuhi ruang fikirnya
Tak ada tempat baginya untuk lari
Tak ada tempat baginya ruang bebas
Bahkan dengan pekerjaan yang menumpuk
Bahkan dengan pekerjaan yang menyita waktu
Ia dimakan bulat-bulat oleh rindu yang menggigit
Terkadang matanya menatap kosong
Terkadang mulutnya bergumam nama suaminya
Terkadang ia menjatuhkan sesuatu
Ia merasa sendiri
Ia merasa sepi
Meski tak sendiri
Meski tak menyendiri
Dan kini telah dua bulan purnama ia menanti
Ia semakin tak dapat mengendalikan diri
Ia semakin merasa tak menentu
Apakah karena penantian sekian lama
Apakah karena dua bulan purnama?

Saturday, April 24, 2010

Cerita Cinta yang Lara (4) - Terbang-terbanglah Puisiku

Dikenangnya luka hatinya yang dalam
Dihapusnya dengan membaca dan membaca
Puisi-pusinya yang 100 itu
Puisi-puisinya teman-temannya
Dalam mengusir luka yang kadang-kadang tertiup
Dalam mengusir sepi yang kadang-kadang singgah
Dibawanya kemana-kemana 100 puisinya
Mengelilingi lembah edelweis yang indah
Bercampur baur dengan penduduk desa
Bahkan pergi ke kota untuk keperluan sehari-harinya
Tak pernah lepas dari tubuhnya
Tak pernah lepas bergumam mulutnya merapal
Puisi-puisinya teman-temannya

Cintanya yang pedih rupanya perlahan sirna
Semangat hidupnya kembali terpompa
Dan ia berjalan di jalan hidup yang tak sedih lagi
Ia membawa 100 puisi
Ia mempunyai 100 optimisme
Ia mempunyai 100 harapan
Bahkan ia tergerak untuk membagikan puisi-puisinya
Agar dunia tahu apa yang ia rasakan
Agar dunia tahu dirinya sudah bangkit
Dan kini dia termangu di kaki lembah
Memandang sebuah sungai yang mengalir bening
Tak jemu matanya mengikuti aliran air
Datang dan pergi tak berhenti
Serupa cinta, sedih, dan hampa yang kini ia rasa
Tersenyumlah ia sendiri dan bergumam padaku
'Kapankah cintaku datang lagi ?'
'Sanggupkah aku?'
Bergeraklah kakinya ke tepi sungai
Berpijak pada sebuah batu besar, tangannya menyentuh air yang dingin
Dan ia membiarkan khayalannya tak berpijak
Menerawang alam tanpa batas
Hingga tersentak kembali ke bumi

'Aku harus menyebarkan harapku'
'Aku harus mneyebarkan karyaku'
Dia pun berlari kembali ke rumah
Kembali dengan dirinya dan ide-idenya
Dia pergi ke pasar sejenak
Mencari sesuatu yang membebani fikirnya
Mencari sesuatu yang harus ia dapatkan
Dan membiarkan malam mengantarkannya kembali ke rumah
Kembali ke rumah bersama ide-idenya
Kembali ke rumah dengan harapan barunya
Kembali ke rumah dengan cita-cita barunya
Ia pun memasuki rumahnya
Dan pada pintu yang berderit ia berucap:
'Aku harus menyebarkan karyaku'
Obsesi ataukah optimisme yang menjalar
Ataukah keduanya memang sudah saling bergandeng tangan merasukinya
Merasuki alam bawah sadarnya
Merasuki luka-luka yang perlahan sirna

Pagi menjelang Soetrisno tampak segar kembali
Darah optimisme dan obsesi sudah terpompa ke jantung
Semangatnya berkobar memanas nyalang berbinar dimatanya
Dipandangnya 100 balon gas berwarna-warni siap ia terbangkan
Disetiapnya terikat puisi-puisinya
Ah rupanya ia ingin menerbangkannya
Ia ingin menyebarkannya
Ia ingin berteriak lantang dengan tintanya
Ia ingin berteriak lantang bahwa dia tidak dikalahkan oleh cinta
Dan ia pun membawa keluar 100 balon gas itu
Dilepaskannya  ke udara dan berkata:
'Terbang-terbanglah puisiku....'
'Bawalah pergi hatiku yang pedih...'
'Tinggalkan harapan didadaku...'
'Terbang-terbanglah puisiku...'
'Katakan pada dunia Soetrisno menemukan cinta yang lebih baik'

(TAMAT)

Friday, April 23, 2010

Cerita Cinta yang Lara (3) - 100 Puisi

Kaki langit telah memecahkan telur mentari
Dan warna gelap pergi terusir oleh binarnya
Soetrisno menegakkan dirinya dari pembaringan
Kini sinar duka yang berbinar suram telah mulai sirna
Rupanya ia telah menemukan sebuah pijakan harapan
Atau ia telah mampu menutup lukanya
Atau ia telah sejenak lupa akan lukanya
Menghampiri meja tempat ia berkarya
Ia pun menatapku dan berkata
'Sakit ini berkurang setiap aku menulis puisi'
'Aku akan menulis 100 puisi'
'Aku akan mengusir rasa sakitku dengan 100 puisi'
Ia pun tersenyum
Ia pun berlinangan air mata
Meski tak sederas dulu
Meski tak selemah dulu
Cintanya masih memberinya hadiah berbentuk kepedihan

Kepedihan itu akan dikeluarkan dari dadanya
Kepedihan itu akan diukirnya dalam puisi
Kepedihan itu akan ditanamnya dengan tinta ke dalam kertas-kertasnya
Agar ia bisa melanjutkan hidup
Agar hidupnya dapat diwarnai lagi
Mungkin dengan cinta yang lain
Mungkin dengan cita-cita yang lain
Mungkin dengan harapan-harapan yang lain
Dia sudah berniat
Dan kini ia sibuk bergulat
Mengeluarkan kepedihannya
Yang terkunci rapat meskipun ia sudah menumpahkannya dalam genangan air mata

Tangannya sibuk menari-nari
Menggoreskan kepedihan demi kepedihan
Matanya sudah mulai tak berair
Apakah ia tak sedih lagi ataukah telah kering dan habis air matanya
Tapi ia tak kan pernah peduli dengan pertanyaan itu
Ia hanya ingin menulis dan menulis
Hingga semua kepedihannya berpindah ke atas kertas
Hanya itu yang ia harapkan
Dan hanya itu yang kini ia kerjakan
Hari demi hari
Malam demi malam
Ia terus mengukir kesedihannya
Ia terus mengeringkan air matanya
Ia terus menyembuhkan lukanya
Hingga puisi ke 100
Hingga karyanya yang ke 100
Hingga akhirnya air matanya dapat ia tahan
Hingga ia merasakan lelah yang luar biasa
Tetapi ia tersenyum
Ia tersenyum dengan sepenuh hati
Ia tersenyum menunjukkan kepuasan
Ia tersenyum merasa sebagai jiwa yang sehat
Ia tersenyum karena ia akhirnya bisa merasakan senyum

Cintanya memberi hadiah kepedihan
Kepedihan menghadiahinya senyuman terindah
Kepedihan menghadiahinya 100 puisi
Digenggamnya 100 lembar puisi-puisinya
Dibacanya satu demi satu dengan perlahan
Dibacanya satu demi satu dengan penuh rasa
Dibacanya satu demi satu dengan senyuman disetiap akhir puisinya
Dibacanya satu demi satu dengan binar-binar kehidupan
Dan matanya tak sembab lagi
Dan ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya
Terbahak-bahak tiba-tiba
Dalam kesendiriannya ia tertawa setelah menangis
'Ah lepas juga beban ini.... aku bebas'
'Kepedihanku berbuah 100 puisi'

Wednesday, April 21, 2010

Cerita Cinta yang Lara (1) - Kertas yang Mampu

Dulu saat mentari terbit dari Timur seperti saat ini
Dulu saat mentari tenggelam dari Barat seperti saat ini
Saat bau rumput pagi tak bercampur polusi
Saat dedaunan memainkan musik
Kolaborasi angin dan daun yang terindah
Dan terdengar di setiap telinga dimana-mana
Hutan-hutan besi, beton, kini hanya bisa menyepi
Dulu saat pagi berarti segar semuanya
Sesegar rumput-rumput yang bermandikan air embun

Di atas sebuah bukit yang penuh dengan bunga edelweis
Seorang pemuda melukiskan puisinya di atas kertas
Setiap ia menulis air matanya menetes
Setiap ia menulis kata-katanya terhapus
Tintanya kalah oleh air mata
Tintanya tak memasung kata-kata
Kata-kata itu tak terekam
Berulangkali mencoba
Tak jemu mencoba
Hingga kertasnya menemui batasnya
Terluka dan tak ada tempat untuk kata-katanya
Tetesan air matanya sejenak berhenti
Terdiam ia membiarkan waktu tanpa laku
Dan kertas itu pun terserakkan
Tercampur dengan kertas-kertas yang lain
Kertas berikutnya berdoa
Berharap ia kuat merekam puisi sang pemuda
Berharap ia kuat meresap tinta
Tak terkalahkan oleh air mata

Pemuda itu masih terdiam
Tangannya memegang dadanya
Dada bidang seorang lelaki yang tertempa
Tertempa asam garam laku yang telah lalu
Tertempa oleh pedihnya kenyataan
Tertempa oleh hidup yang memihak waktu

Pemuda itu menatapku dan berbisik
'Tolong tuliskan rasa cintaku yang menjadi pedih, indahnya telah hilang entah kemana'
Ah rupanya cinta yang menyakitkan
Sayap sadarnya rupanya tak mampu mengepak
Sayap harapannya rupanya tak mampu mengepak
Sayap cintanya menjatuhkannya
Dan dia kini hanya seorang diri tenggelam dalam lautan lara
Dan dia kini hanya seorang diri membiarkan dirinya terombang-ambing dalam lautan lara
Dan dia kini hanya seorang diri membiarkan dirinya meneguk pedihnya cinta
'Aku harus mengeluarkan rasa ini !'
'Aku harus mengeluarkan rasa ini !'
Dia mengambil kertas selanjutnya
Air matanya mulai menetes lagi
Tangannya diurungkannya menggoreskan kata
Dipandangnya ribuan kertas-kertas yang tak bermakna
Berserakan tanpa mempunyai cerita
Berserakan tanpa menyimpan makna
Berserakan tanpa menampung rasa nya
Rasa sakit sendiri tanpa makna bahkan tak bisa bercerita
'Sudahlah...'
'Sudahlah...'
Ia menatapku dan berbisik
'Aku akan membuat kertas yang mampu'

Siang dan malam ia bekerja
Siang dan malam ia mencari jalan
Seminggu telah berlalu ia pun tersenyum haru
Dan sejak itu setiap pagi menjelang ia nampak memintal benang
Hingga bulan berdendang
Hingga bintang-bintang senyum cemerlang
Lelah tak dirasa
Menyerah tak dikenal
Putus asa bukan namanya
Tapi cinta masih membuatnya merana
Tetes-tetes air matanya masih menetes
Tapi tak merusak benang-benangnya
Tapi tak merusak kertas-kertas baru yang jadi
Rupanya ia membuat kertas dari benang

Kertas ke seribu pun jadi
Ia kembali mencoba menuangkan rasa
Ia kembali meneteskan air mata
Ia kembali mengoreskan kata-kata
Puisinya jadi
Puisinya terselesaikan
Meskipun air matanya menganak sungai
Tintanya bertahan dan mengakar
Rasanya telah tertumpahkan
Meskipun matanya masih berlinang

Bahasa Merdu - Puisi Cinta

Bahasa Merdu - Pidato